Showing posts with label ALTERNATIVE ENERGY. Show all posts
Showing posts with label ALTERNATIVE ENERGY. Show all posts

Tuesday, August 19, 2008

Briket Batubara Sebagai Alternatif Pengganti Minyak Tanah


Akhir-akhir ini harga bahan bakar minyak dunia meningkat pesat yang berdampak pada meningkatnya harga jual bahan bakar minyak termasuk minyak tanah. Minyak tanah di Indonesia yang selama ini di subsidi menjadi beban yang sangat berat bagi pemerintah Indonesia karena nilai subsidinya meningkat pesat menjadi lebih dari 49 trilun rupiah per tahun dengan penggunaan lebih kurang 10 juta kilo liter per tahun. Untuk mengurangi beban subsidi tersebut maka pemerintah berusaha mengurangi subsidi yang ada dialihkan menjadi subsidi langsung kepada masyarakat miskin. Namun untuk mengantisipasi kenaikan harga BBM dalam hal ini Minyak Tanah diperlukan bahan bakar alternatif yang murah dan mudah didapat. Briket batubara merupakan bahan bakar padat yang terbuat dari batubara, bahan bakar padat ini murupakan bahan bakar alternatif atau merupakan pengganti Minyak tanah yang paling murah dan dimungkinkan untuk dikembangkan secara masal dalam waktu yang relatif singkat mengingat teknologi dan peralatan yang digunakan relatif sederhana. 

Briket Batubara

Briket batubara adalah bahan bakar padat yang terbuat dari batubara dengan sedikit campuran seperti tanah liat dan tapioka. Briket batubara mampu menggantikan sebagian dari kegunaan Minyak tanah sepeti untuk : Pengolahan makanan, pengeringan, pembakaran, dan pemanasan. Bahan baku utama Briket batubara adalah batubara yang sumbernya berlimpah di Indonesia dan mempunyai cadangan untuk selama lebih kurang 150 tahun. Teknologi pembuatan briket tidaklah terlalu rumit dan dapat dikembangkan oleh masyarakat maupun pihak swasta dalam waktu singkat. Sebetulnya di Indonesia telah mengembangkan briket batubara sejak tahun 1994 namun tidak dapat berkembang dengan baik mengingat Minyak tanah masih disubsidi sehingga harganya masih sangat murah, sehingga masyarakat lebih memilih Minyak tanah untuk bahan bakar sehari-hari. Namun dengan kenaikan harga BBM per 1 Oktober 2005, mau tidak mau masyasrakat harus berpaling pada bahan bakar alternatif yang lebih murah seperti Briket Batubara.

Jenis Briket batubara

1. Jenis Berkarbonisasi (super), jenis ini mengalami terlebih dahulu proses dikarbonisasi sebelum menjadi Briket. Dengan proses karbonisasi zat-zat terbang yang terkandung dalam Briket Batubara tersebut diturunkan serendah mungkin sehingga produk akhirnya tidak berbau an berasap, namun biaya produksi menjadi meningkat karena pada Batubara tersebut terjadi rendemen sebesar 50%. Briket ini cocok untuk digunakan untuk keperluan rumah tangga serta lebih aman dalam penggunaannya

2. Jenis Non Karbonisasi (biasa), jenis yang ini tidak mengalamai dikarbonisasi sebelum diproses menjadi Briket dan harganyapun lebih murah. Karena zat terbangnya masih terkandung dalam Briket Batubara maka pada penggunaannya lebih baik menggunakan tungku (bukan kompor) sehingga akan menghasilkan pembakaran yang sempurna dimana seluruh zat terbang yang muncul dari Briket akan habis terbakar oleh lidah api dipermukaan tungku. Briket ini umumnya digunakan untuk industri kecil

Produsen terbesar Briket Batubara di Indonesia saat ini adalah PT. Tambang Batubara Bukit Asam (Persero), atau PT. BA yang mempunyai 3 pabrik yaitu di Tanjung Enim Sumatera Selatan, Bandar Lampung dan Gresik Jawa Timur dengan kapasitas terpasang 115.000 ton pertahun. Disamping PT. BA terdapat beberpa perusahaan swasta lain yang meproduksi Briket Batubara namun jumlahnya jauh lebih kecil dibanding PT. BA dan belum berproduksi secara kontinyu.Dengan adanya kenaikan BBM khususnya Minyak Tanah dan Solar, tentunya penggunaan Briket Batubara oleh kalangan rumah tangga maupun industri kecil/menengah akan lebih ekonomis dan menguntungkan, namun demikian kemampuan produksi dari PT. BA. masih sangat kecil, untuk mengatasi kekurangan tersebut diharapkan partisipasi serta keikutsertaan pihak swasta untuk memproduksi dan mensosialisasikan penggunaan Briket Batubara disetiap daerah.

Keunggulan Briket Batubara
1. Lebih murah
2. Panas yang tinggi dan kontinyu sehingga sangat baik untk pembakaran yang lama
3. Tidak beresiko meledak/terbakar
4. Tidak mengeluarkan sauara bising serta tidak berjelaga
5. Sumber Batubara berlimpah

Perbandingan Pemakaian Minyak Tanah dengan BriketRumah tangga untuk 3 ltr/hari Minyak tanah Rp. 9000/hari; Briket Rp. 5400/hari; Penghematan Rp. 3600/hari. Warung makan untuk 10 ltr/hari Minyak Tanah Rp. 30.000/hari; Briket Rp. 18.000/hari; Penghematan Rp. 12.000/hari. Industri kecil untuk 25 ltr/hari Minyak Tanah Rp. 75.000/hari; Briket 45.000/hari; Penghematan Rp. 30.000/hariIndustri kecil untuk 100 ltr/hari Minyak Tanah Rp. 2.000.000/hari; Briket Rp. 1.502.450/hari; Penghematan Rp. 497.550/hari.

Parameter Antara Minyak Tanah dan BriketNilai kalori : Minyak Tanah 9.000 kkal/ltr; Briket : 5.400 kkal/kgEkivalen : Minyak Tanah 1 ltr; Briket 1.50 kgBiaya : Minyak Tanah Rp. 2800,- Briket : Rp. 1.300

Jenis dan Ukuran Briket batubara1. Bentuk telur : sebesar telu ayam2. Bentuk kubus : 12,5 x 12,5 x 5 cm3. Bentuk selinder : 7 cm (tinggi) x 12 cm garis tengah

Briket bentuk telur cocok untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan, sedangkan bentuk kubus dan selinder digunakan untuk kalangan industri kecil/menengah

Kompor/Tungku Briket Batubara

Penggunaan Briket Batubara harus dibarengi serta disiapkan Kompor atau Tungku, jenis dan ukuran Kompor harus disesuaikan dengan kebutuhan. Pada prinsipnya Kompor/Tungku terdidri atas 2 jenis :
1. Tungku/Kompor portabel, jenis ini pada umumnya memuat briket antara 1 s/d 8 kg serta dapat dipindah-pindahkan. Jenis ini digunakan untuk keperluan rumah tangga atau rumah makan
2. Tungku/Kompor Permanen, biasanya memuat lebih dari 8 kg briket dibuat secara permanen. Jenis ini dipergunakan untuk industri kecil/menengah

Persyaratan Kompor/tungku harus memiliki :
1. Ada ruang bakar untuk briket
2. Adanya aliran udara (oksigen) dari lubang bawah menuju lubang atas dengan melewati raung bakar briket yang terdiri dari aliran udara primer dan sekunder
3. Ada rung untuk menampung abu briket yang terleak di bawah ruang bakar briket

Pengembangan produksi Briket batubara dan kompor/tungku sampai saat ini pihak BPP Teknologi melalui Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) telah lama mengembangkan dan men-disain mesin untuk memproduksi Briket Batubara skala kecil/menengah dengan kapsitas produksi sebesar 2 s/d 8 ton/hari. Dengan demikian industri briket sakala kecil/menengah ini diharapkan bisa tersebar di sentra-sentra pengguna Briket Batubara sehingga mudah dalam penyediaan briket secara kontinyu. Disamping itu pula BPP Teknologi telah mengembangkan jenis-jenis Kompor/Tungku Briket untuk keperluan rumah tangga, rumah makan serta industri kecil/menengah. Penjelasan lengkap silahkan akses http://www.ristek.go.id/
(sumber : PT. BA, BPPT)

Lonjakan Harga Minyak, Momentum Diversifikasi Energi

Harga minyak terus membubung tinggi dan melahirkan rekor-rekor baru harga minyak. Ketika lonjakan harga minyak terjadi pada tahun 1974, 1979 dan 1990, Indonesia sebagai negara pengekspor minyak ikut kebagian rezeki nomplok dengan kenaikan harga tersebut. Namun lonjakan kali ini "ceritanya" lain. Gejolak harga minyak ini dapat menggoyahkan pilar pilar perekonomian nasional. Saat ini Indonesia hanya menghasilkan minyak kurang dari 1 juta barrel per hari. Nilai ini turun drastis dari 1,4 juta barrel per hari pada tahun 1999, sejak dimulainya upaya restrukturisasi perminyakan nasional. Sementara itu, jumlah kebutuhan minyak nasional sekitar 1,2 juta barrel per hari. Kondisi ini diperparah dengan pola pengelolaan sumber energi nasional.

Data dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa lebih dari separo kebutuhan energi Indonesia dipenuhi dari minyak bumi. Dari keseluruhan jumlah konsumsi energi yang mencapai 700 juta SBM (setara barel minyak) per tahun, minyak bumi memasok sebesar 57% (400 juta barel), disusul gas bumi 25%, dan batu bara 13%, sedangkan sisanya 5% dipenuhi dari tenaga air, panas bumi, biomassa, surya dan sebagainya. Kita memiliki cadangan total minyak bumi, yang meliputi cadangan terbukti dan cadangan potensial, sekitar 10 milyar barel.

Jika tingkat produksi minyak rata-rata sebesar 400 juta barel per tahun, maka cadangan minyak akan kering dalam 25 tahun. Setelah itu, kita harus mengimpor seluruh kebutuhan minyak kita. Jika komposisi pasokan energi masih belum berubah secara signifikan dari kondisi saat ini, maka dapat dipastikan bahwa kondisi ekonomi Indonesia akan "terjun bebas" karena energi merupakan penggerak utama roda perekonomian. Dua puluh lima tahun bukanlah waktu yang panjang. Oleh karenanya, upaya perubahan komposisi pasokan energi kita harus diubah mulai saat ini, tidak boleh ditunda-tunda lagi. Lonjakan harga minyak kali ini merupakan momentum besar untuk melakukan upaya diversifikasi energi.

Pilihan sumber energi pengganti minyak yang terdekat adalah gas alam. Dari sisi penggunaannya, gas alam memiliki banyak kemiripan dengan minyak bumi sehingga pengalihan dari penggunaan minyak ke gas alam relatif mudah dilakukan dibandingkan dengan energi lain. Tingkat penggunaan sumber energi ini saat ini sekitar 170 juta SBM, atau 25 % dari jumlah pasokan energi per tahun. Jumlah total cadangan gas bumi Indonesia, baik cadangan terbukti maupun potensial, yang telah diketahui sekitar 390 trilyun kaki kubik atau sekitar 65 milyar SBM. Jadi, jika seluruh energi saat ini diganti dengan gas bumi, maka cadangan gas alam kita cukup untuk sekitar 90 tahun apabila tingkat penggunaan energi sebesar saat ini, 700 SBM per tahun.

Pilihan sumber energi pengganti minyak yang terdekat adalah gas alam. Dari sisi penggunaannya, gas alam memiliki banyak kemiripan dengan minyak bumi sehingga pengalihan dari penggunaan minyak ke gas alam relatif mudah dilakukan dibandingkan dengan energi lain. Tingkat penggunaan sumber energi ini saat ini sekitar 170 juta SBM, atau 25 % dari jumlah pasokan energi per tahun. Jumlah total cadangan gas bumi Indonesia, baik cadangan terbukti maupun potensial, yang telah diketahui sekitar 390 trilyun kaki kubik atau sekitar 65 milyar SBM. Jadi, jika seluruh energi saat ini diganti dengan gas bumi, maka cadangan gas alam kita cukup untuk sekitar 90 tahun apabila tingkat penggunaan energi sebesar saat ini, 700 SBM per tahun.

Selain gas dan batu bara, energi nuklir merupakan sumber energi potensial yang sampai saat ini belum dimanfaatkan di Indonesia. Negeri ini merupakan satu-satunya negara dengan penduduk besar, di atas 200 juta, yang belum memanfaatkan energi ini. Energi nuklir telah digunakan di banyak negara dan rekam jejak penggunaan energi ini pun telah tergelar di hadapan kita.

Jepang, misalnya, telah memiliki sejarah pemanfaatan energi yang tidak melepaskan gas karbon dioksida ini sejak tahun 1966. Saat ini Negeri Sakura ini memiliki 52 buah reaktor nuklir yang sedang beroperasi dengan total kapasitas daya sekitar 46 000 MW, lebih dari sepertiga total kapasitas daya listrik yang dimiliki. Kita tinggal menghitung secara rasional keuntungan dan tantangan opsi nuklir ini dibandingkan dengan sumber energi lain.
Pilihan ideal bagi Indonesia sebenarnya terletak pada energi baru dan terbarukan (EBT). Indonesia memiliki potensi besar sumber energi jenis ini seperti panas bumi, biomassa, mikrohidro, angin, surya, gambut, pasang surut dan gelombang. Di tinjau dari dampaknya terhadap lingkungan, energi ini termasuk energi yang ramah lingkungan. Sebagai daerah vulkanik, wilayah lndonesia termasuk negara kaya akan sumber energi panas bumi. Jalur gunung api membentang dari ujung Pulau Sumatra Sepanjang Pulau Jawa-Bali, NTT, NTB, Halmahera dan Pulau Sulawesi.
Menurut data yang dikeluarkan oleh Direktorat Jendral Listrik dan Pengembangan Energi, Indonesia memiliki potensi panas bumi sebesar 20 ribu MW, lebih dari dua pertiga total kapasitas daya terpasang listrik PLN saat ini yang sekitar 28 ribu MW. Dari total potensi tersebut, sektar 8 ribu MW ada di pulau Jawa, 5 ribu MW di pulau sumatera dan sisanya di pulau-pulau lain. Energi dari perut bumi ini baru dimanfaatkan sebesar 887 MW atau 4,4 % dari seluruh potensi yang ada.
Sebagai negara tropis, Indonesia kaya akan biomassa. Kita memiliki potensi biomassa sebesar 50 000 MW yang tersebar di seluruh wilayah negeri ini. Dari jumlah sebesar ini, baru dimanfaatkan sebesar 313 MW, atau sebesar 0,62 % dari potensi yang ada. Sementara itu, energi baru dan terbarukan yang lain dapat dikatakan belum disentuh.

Dari Mana Memulainya

Semua pihak kelihatannya akan menyetujui upaya diversifikasi sumber energi. Namun, pertanyaan yang sulit dijawab adalah siapa pelopor dan dari mana mulainya. Pihak industri, utamanya swasta, merupakan pengguna energi dalam jumlah besar. Sekitar 40% energi yang dihasilkan digunakan oleh industri. Sisanya digunakan untuk transportasi, rumah tangga dan sebagainya. Industri menentukan pilihan jenis energi berdasarkan mekanisme pasar secara rasional.
Realitas saat ini menunjukkan bahwa minyak masih merupakan pilihan paling menguntungkan. Lonjakan harga minyak dapat menurunkan tingkat daya saing minyak terhadap energi lain. Kendati demikian, lonjakan kali ini belum cukup untuk mengubah komposisi pilihan sumber energi secara signifikan.
Perubahan pilihan energi tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat, karena diperlukan perubahan fasilitas dengan investasi tidak kecil. Perubahan ini, tentunya, disertai resiko yang tidak kecil. Oleh karena itu, upaya diversifikasi sumber energi ini tidak dapat diserahkan kepada pihak swasta sepenuhnya. Untuk memulai upaya diversifikasi sumber energi, pemerintah perlu mengambil inisiatif awal. Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan pemerintah untuk memacu upaya ini.
Pertama, menciptakan suasana yang mendukung bagi pengalihan sumber energi dari minyak. Pemerintah dapat memberikan insentif, misalnya berupa keringanan pajak bagi industri pengguna energi selain minyak.. Tingkat pengurangan pajak ini tentunya disesuaikan dengan jenis sumber energi yang digunakan. Insentif tertinggi sebaiknya diberikan kepada pengguna sumber energi dari jenis EBT.
Kedua, langkah percontohan. Bagi para calon pengguna, contoh nyata merupakan faktor yang menentukan karena daya pikat sebuah contoh nyata melebihi argumentasi kata kata berapa pun jumlahnya. Lebih lebih di negeri dengan tingkat ketidakpastian yang sangat tinggi ini. Percontohan dapat dilakukan oleh badan usaha milik negara (BUMN) di mana pemerintah memiliki kewenangan penuh untuk menentukan arah kebijakan. Pembangkit PLN sebanyak 34% digerakkan oleh BBM. Panas bumi baru menempati 2%. Oleh karena itu, PLN perlu mempelopori penggunaan panas bumi.
Hasil kajian JICA menunjukkan bahwa apabila listrik dibeli dengan harga 8 sen dollar per kwh, investor akan berebut untuk menggali panas bumi Indonesia. Angka ini jauh lebih murah dari biaya produksi listrik menggunakan minyak yang telah melampaui 15 sen dollar AS per kwh. Selama ini, PLN memerlukan payung hukum yang lebih kuat untuk mempromosikan panas bumi karena harga listrik panas bumi ini masih lebih mahal dibandingkan listrik dari batu bara. Pemerintah baru saja mengeluargkan peraturan menteri energi dan sumber daya mineral no 14 tahun 2008 tertanggal 9 mei 2008 tentang harga jual listrik yang dibangkitkan dari panas bumi, Dengan berlandaskan aturan yang baru ini, harga jual listrik panas bumi pada kisaran 7-8 sen dollar AS per kwh. Diharapkan bahwa ini dapat menjadi payung hukum bagi PLN dalam menggali potensi panas bumi di tanah air.
Ketiga, meningkatkan kapabilitas teknologi nasional di bidang energi.. Teknologi energi mencakup teknologi-teknologi untuk studi kelayakan, desain, konstruksi serta pengoperasian fasilitas. Pemerintah perlu mengalokasikan sumber daya yang memadahi untuk meningkatkan kapabilitas ini. Ada beberapa BUMN dan institusi pemerintah yang terlibat seperti Pertamina, PLN, kementerian ESDM, BPPT dan sebagainya. Oleh karena itu, pemerintah perlu melakukan evaluasi dan koordinasi untuk meningkatkan kapabilitas teknologi nasional di bidang ini.
Untuk merealisasikan upaya diversifikasi energi nasional, ada satu syarat mutlak yang harus ada yaitu kepemimpinan nasional dengan visi jangka panjang. Hal ini dikarenakan kerja keras ini tidak akan membuahkan hasil dalam waktu singkat. Upaya ini ibarat menanam pohon kelapa yang boleh jadi penanamnya tidak memetik hasilnya secara langsung. Hasil jerih payah ini akan dirasakan oleh generasi mendatang. Ini lah rasanya yang sulit dicari di negeri ini.

Sumber: Rohadi Awaluddin, Peneliti ISTECS

Sumber Energi Alternatif Menuju Ketahanan Energi Nasional (Executive Summary)

(Kedeputian Bidang Kajian Lemhannas RI), 2006

Kebutuhan energi merupakan sesuatu yang tidak dapat terpisahkan dari kehidupan manusia saat ini, energi mempunyai peranan penting dalam kehidupan sosial, ekonomi dan lingkungan yang berkelanjutan sesuai kesepakatan dunia dalam World Summit on Sustainable Development (WSSD).
Pemakaian energi dunia untuk waktu mendatang seperti diperkirakan Energy Information Administration (EIA) hingga tahun 2025 masih didominasi oleh bahan bakar dari fosil: minyak, gas alam dan batubara, untuk energi terbarukan masih relatif sedikit. Sedangkan dari segi pemakaian, sumber energi minyak secara global didominasi untuk transportasi, dan ini sampai 2025 diperkirakan masih terus berlanjut meningkat, sedangkan untuk daerah komersial dan tempat tinggal dapat dikatakan tidak banyak perubahan.
Kebutuhan listrik dunia diproyeksikan akan meningkat dari 14.275 milyar watt ditahun 2002 melonjak menjadi 26.018 milyar watt ditahun 2025, dan untuk mendapatkan energi listrik tersebut sebagian besar adalah dari batubara yaitu hampir 40%, diikuti dengan gas yang semakin meningkat.
Di Asia diproyeksikan kebutuhan energi akan meningkat dari 110 quadrilliun Btu (Qbtu) ditahun 2002 menjadi 221 QBtu di tahun 2025 atau meningkat dua kali lipat dalam jangka waktu 23 tahun. Dari peningkatan yang demikian tinggi tersebut, China merupakan negara yang peningkatannya sangat tinggi yaitu dari 43 Qbtu ditahun 2002 menjadi 109 Qbtu ditahun 2025.
Dengan kondisi kebutuhan energi yang demikian besar, beberapa Negara mencanangkan penghematan energi seperti di Jepang, Malaysia, Thailand dll. Di Malaysia dicanangkan program SREP (Small Renewable Energy Power) dan dibentuk Special Committee on Renewable Energy (SCORE) untuk menjalankan program tersebut. Sedangkan Thailand membentuk EPPO (Energy Policy and Planning Office). Dalam kebijaksanaannya EPPO mengarah untuk menekan pemakaian energi dari fosil sampai 70 % dengan Strategic Plan Energy Conservation selama sepuluh tahun. Strategi tersebut diutamakan dalam meningkatkan efisiensi dan ekonomis pada sektor transportasi, industri dan rumah tinggal. Untuk menuju hal tersebut dilakukan pengembangan sumber daya manusia, dan meningkatkan kesadaran masyarakat dengan berbagai kampanye. Untuk arah energy alternative Thailand membentuk DAEDE (Department of Alternative Energy Development and Efficiency). Saat ini Thailand sudah mempunyai energi terbarukan sekitar 17% dari seluruh keperluan energi, dan kemampuan domestic untuk hal tersebut mencapai lebih dari 53%, dan import sekitar 46%.
Penggunaan energi di Indonesia juga seperti yang terjadi di dunia secara umum yaitu meningkat pesat sejalan dengan pertumbuhan penduduk, pertumbuhan perekonomian maupun perkembangan teknologi. Pemakaian energi mix di Indonesia saat ini lebih dari 90% menggunakan energi yang berbasis fosil, yaitu minyak bumi 54,4%, gas 26,5% dan batubara 14,1%. Untuk energi dengan Panas bumi 1,4%, PLTA 3,4%, sedangkan energi baru dan terbarukan (EBT) lainnya 0,2%.
Sedangkan cadangan minyak bumi terbukti saat ini diperkirakan sebesar 9 milyar barel, dengan tingkat produksi rata-rata 0,5 milyar barrel per tahun, maka cadangan tersebut dapat habis dalam waktu sekitar 18 tahun. Cadangan yang diperkirakan untuk gas 170 TSCF (trilion standart cubic feed) sedangkan kapasitas produksi mencapai 8,35 BSCF (billion standart cubic feed) yang dibagi untuk ekspor 4,88 BSCF dan untuk domestik 3,47 BSCF. Cadangan batubara di Indonesia diperkirakan ada 57 miliar ton dan merupakan cadangan yang sudah dieksplorasi sebesar 19,3 miliar ton, dengan kapasitas produksi sebesar 131,72 juta ton per tahun. Sehingga jika tidak ada penambahan eksplorasi, cadangan batubara tersebut akan dapat bertahan selama 147 tahun.
Dari segi cadangan Indonesia masih mempunyai cukup besar, tetapi permasalahan utama yang terjadi di Indonesia adalah kebijaksanaan yang belum dapat memberikan ketahanan energi secara nasional, dimana masih banyak yang belum mendapatkan pasokan energi seperti listrik, produksi minyak yang tidak dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sehingga perlu import, harga minyak yang disubsidi memberatkan keuangan pemerintah, dan jika dilakukan penyesuaian dengan harga internasional terjadi gejolak dimasyarakat karena daya beli yang masih rendah dll.
Saat ini ketersediaan listrik di Indonesia baru mencapai 21,6 GW atau 108 watt per orang, hal itu hampir sama dengan di India yang hanya seper enamnya Malaysia(609 watt/orang) dan jauh lebih kecil dibandingkan dengan Jepang yang mencapai 1.874 watt/orang. Padahal potensi adanya energi listrik di Indonesia sangat besar, yaitu dari sumber energi non fosil seperti panas bumi setara 27 Giga watt (GW), tenaga air 75 GW, biomasa 49 GW, tenaga matahari 48 kWh/m2/hari, tenaga angin 9 GW, uranium 32 GW atau total ada lebih 230 GW dan dimanfaatkan untuk listrik baru 10%.
Ketersediaan energi yang dapat dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia masih sangat rendah yaitu 0,467 toe per kapita, dibanding dengan Jepang yang mencapai 4,14 toe/kapita, tetapi dilain pihak terjadi pemborosan yang sangat besar, yaitu 470 toe perjuta US dolar, sedangkan Jepang hanya 92,3 toe perjuta US dolar.
Untuk mengatasi permasalahan di bidang energi, telah dibuat berbagai kebijaksanaan seperti Kebijakan umum bidang energi (KUBE) sejak tahun 1981 dan telah dilakukan perbaikan pada tahun 1987, 1991 dan 1998. Kemudian Kebijakan Energi Nasional (KEN) dibuat pada tahun 2003. Kebijakan Pengembangan Energi Terbarukan dan Konservasi Energi (Energi Hijau) yang dikeluarkan Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral 22 Desember 2003.
Kebijaksanaan yang diatas belum dapat menjawab permasalahan secara menyeluruh, sehingga untuk operasional kebijaksanaan tersebut kemudian dibuat Blueprint Pengelolaan Energi Nasional 2005-2025 yang mencanangkan: Pemakaian energi mix untuk minyak menjadi 26,2%, Gas bumi 30,6%, batubara 32,7%, PLTA 2,4%, Panas bumi 3,8% dan yang lainnya sebesar 4,4% merupakan energi: biofuel, tenaga surya, tenaga angin. Fuelcell, biomasa, tenaga nuklir dll.
Blueprint tersebut belum diformalkan menjadi kebijaksanaan pemerintah, sehingga belum secara nasional mengacu. Untuk itu diusulkan segera dibuatnya undang undang energi sebagai payung utama dalam hal energi, kemudian penyesuaian undang-undang yang terkait dengan undang-undang energi, seperti undang-undang ketenaga-nukliran, kelistrikan, panas bumi, migas dll. Undang-undang tersebut perlu diikuti dengan instrumen-instrumen untuk memudahkan pelaksanaan baik dipusat maupun di daerah.
Juga perlu dilakukan perbaikan kebijaksanaan dalam harga, selain untuk menekan subsidi juga untuk menekan terjadinya penyelundupan BBM keluar negeri, pencampuran berbagai jenis minyak dll. Dalam hal ini koordinasi secara nasional diperlukan, terutama dengan penegak hukum baik Polisi maupun TNI serta perangkat hukum lainnya. Kebijaksanaan didaerah yang saat ini kebanyakan menunggu kebijaksanaan dari pusat, dengan adanya undang-undang energi dan programnya yang jelas dapat menentukan arah pembangunan energi yang ada didaerahnya sesuai dengan potensi yang ada.
Instrumen kebijaksanaan dibidang fiscal yang berkaitan dengan energi sangat penting, seperti diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Insentif yang diperlukan, di antaranya, adalah: pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukan dan konservasi energi; penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan; penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan konservasi energi; memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjinering dari investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.
Penelitian dan pengembangan di bidang energi alternatif dan konservasi energi perlu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan Iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi energi terbarukan dan konservasi energi melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan. Selain programnya juga perlu dianggarkan dengan baik, biaya untuk penelitian dan pengembangan yang diambil dari pengurangan subsidi, maupun anggaran khusus yang dapat mengurangi kerugian social ekonomi karena permasalahan pemborosan pemakaian .energi. Anggaran pemerintah untuk energi alternatif di usulkan 2,5% dari angaran subsidi, baik subsidi untuk minyak maupun subsidi untuk listrik dan dari tahun ketahun diberikan prioritas kenaikan untuk mempercepat penyelesaian permasalahan energi.
Instrumen kebijaksanaan pendidikan perlu ditujukan untuk membuka inisiatif masyarakat dalam mengimplementasikan energi alternatif dan konservasi energi. Selain itu diperlukan regulasi keteknikan untuk menjamin penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif dan konservasi energi yang berkualitas tinggi, aman, andal, akrab lingkungan.
Juga pemberlakukan standar untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk energi maupun produk peralatan/sistem energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar negeri, yang berhubungan dengan energi terbarukan dan konservasi energi.
Jika di Malaysia ada SCORE dan Thailand membentuk EPPO, di Indonesia selain organisasi di Departemen ESDM, telah dibentuk BP Migas. Untuk mengelola khusus energi terbarukan dan konservasi energi, sebaiknya dibentuk badan energi terbarukan dan konservasi energi diluar departemen yang ada.
Hal yang perlu disadari adalah penyelesaian energi nasional tidak dapat diselesaikan dalam jangka pendek, tetapi mencakup kebijaksanaan jangka panjang yang sangat komprehensif. Sangat diperlukan suatu kebijaksanaan makro, jangka panjang secara holistik dan komprehensif yang dilakukan secara konsisten terus menerus.

REKOMENDASI

Cadangan energi di Indonesia masih besar, tetapi belum dapat memberikan ketahanan energi nasional, sedangkan pemakaian energi yang berbasis fosil mempunyai keterbatasan, sehingga perlu dilakukan penghematan dan efisiensi yang tinggi. Terutama untuk energi minyak bumi, selain cadangan yang terbatas kemampuan produksi dalam negeri dari tahun ketahun menurun dan tidak dapat memenuhi kuota dari OPEC.
Untuk itu diusulkan segera dibuatnya undang undang energi sebagai payung utama dalam hal energi, kemudian penyesuaian undang-undang yang terkait dengan undang-undang energi, seperti undang-undang ketenaga nukliran, kelistrikan, panas bumi, migas dll. Undang-undang tersebut perlu diikuti dengan instrumen-instrumen untuk memudahkan pelaksanaan baik dipusat maupun di daerah. Juga perlu ditetapkan program yang jelas, seperti yang tertera dalam blue print energi yang perlu dilakukan sinkronisasi dengan kebijaksanaan perumahan, transportasi, industri maupun daerah komersiil. Hasil blueprint tersebut perlu diformalkan untuk menjadi acuan nasional, sehingga semua kebutuhan yang berkaitan dengan energi harus disesuaikan dengan blueprint tersebut.
Perlu adanya perbaikan kebijaksanaan dalam harga, selain untuk menekan subsidi juga untuk menekan terjadinya penyelundupan BBM keluar negeri, pencampuran berbagai jenis minyak dll. Dalam hal ini koordinasi secara nasional diperlukan, terutama dengan penegak hukum baik Polisi maupun TNI serta perangkat hukum lainnya. Kebijaksanaan didaerah yang saat ini kebanyakan menunggu kebijaksanaan dari pusat, dengan adanya undang-undang energi dan programnya yang jelas dapat menentukan arah pembangunan energi yang ada didaerahnya sesuai dengan potensi yang ada.
Instrumen kebijaksanaan dibidang fiscal yang berkaitan dengan energi sangat penting, seperti diperlukan adanya berbagai insentif secara adil dan konsisten. Insentif yang diperlukan, diantaranya, adalah: pemberian insentif pajak berupa penangguhan, keringanan dan pembebasan pajak pertambahan nilai, serta pembebasan pajak bea masuk kepada perusahaan yang bergerak dibidang energi terbarukan dan konservasi energi; penghargaan kepada pelaku usaha yang berprestasi dalam menerapkan prinsip konservasi energi dan pemanfaatan energi terbarukan; penghapusan pajak barang mewah terhadap peralatan energi terbarukan dan konservasi energi; memberikan dana pinjaman bebas bunga untuk bagian enjinering dari investasi pengembangan energi terbarukan dan konservasi energi.
Penelitian dan pengembangan dibidang energi alternatif dan konservasi energi perlu diarahkan untuk meningkatkan kemampuan nasional di bidang penguasaan Iptek dalam rangka pengembangan industri yang berkaitan dengan jasa dan teknologi energi terbarukan dan konservasi energi melalui kerja sama dengan lembaga atau industri penelitian dan pengembangan unggulan. Selain programnya juga perlu dianggarkan dengan baik beaya untuk penelitian dan pengembangan yang diambil dari pengurangan subsidi, maupun anggaran khusus yang dapat mengurangi kerugian social ekonomi karena permasalahan pemborosan pemakaian energi. Anggaran pemerintah untuk energi alternatif di usulkan 2,5% dari angaran subsidi, baik subsidi untuk minyak maupun subsidi untuk listrik dan dari tahun ketahun diberikan prioritas kenaikan untuk mempercepat penyelesaian permasalahan energi.
Instrumen kebijaksanaan pendidikan perlu ditujukan untuk membuka inisiatif masyarakat dalam mengimplementasikan energi alternatif dan konservasi energi. Selain itu diperlukan regulasi keteknikan untuk menjamin penyediaan dan pemanfaatan energi alternatif dan konservasi energi yang berkualitas tinggi, aman, andal, akrab lingkungan.
Juga pemberlakukan standar untuk memberikan jaminan akan kualitas produk, baik produk energi maupun produk peralatan/sistem energi yang diproduksi di dalam negeri ataupun di luar negeri, yang berhubungan dengan energi terbarukan dan konservasi energi.
Jika di Malaysia ada SCORE dan Thailand membentuk EPPO, di Indonesia selain organisasi di Departemen ESDM, telah dibentuk BP Migas. Untuk mengelola khusus energi terbarukan dan konservasi energi, sebaiknya dibentuk badan energi terbarukan dan konservasi energi diluar departemen yang ada.
http://www.lemhannas.go.id/

Thursday, August 14, 2008

Is Alternative Energy Worth Investing In?


Oil prices are spiralling to new records just about each day. In addition, oil is mostly produced in politically unstable parts of the world; this caused problems in the 1990's and may do so again. Consequently, we may never see oil prices come down or even stabilize.Because of escalating oil prices, many ventures are being formed to find other ways of creating energy that is friendly to the environment as well as cheap. Alternative energy is becoming the new wave to lessen the demand for oil while helping our environment.Alternative energy has always existed, but it was never taken as seriously as it is now that oil prices are so exhorbitant.Sizeable investments are being made in this up and coming industry. There are risks as with any investment, but investors feel it is better to invest in a rising star than a dead dog.The United States is not yet fully committed to alternative energy. Most of the energy to power America has come from petroleum sources. Natural gas is second in use for power, then coal and nuclear power. Only a small portion of energy is created by alternative energy at this time.The problem is to make sure there is ample demand to make investments in alternative energy pay off. Since power plants in existance today use petroleum, gas, coal or nuclear energy, we have to ask if these sources are sufficient to continue to power our cities. But as the population grows, demand for power grows along with it. The resources we currently use are depleting and they also cause the problem of pollution. Soon, we may not have enough power to continue using it.The need to find different ways to power are world is great, and alternative energy is the most likely solution.There are a lot of advantages to alternative energy. It is clean and safe since it uses natural sources. It does not produce pollutive gases as oil does. After an alternative power plant is constructed, the energy produced is practically free. The sources of power for these plants is always available.All investments involve risk, and alternative energy is no exception. It is a new field and may not be successful. It seems to be clean and safe, but there is no guarantee that someday it may show some damage to the environment. Even though it is a mega million dollar industry, it is not yet fully established as the right alternative to traditional energy. At this point, fuel still seems to be the most efficient power source.Even though there may be pros and cons, the basic point is that alternatives have to be found, and alternative energy may turn out to be the best alternative.
Source: Free Articles

How to Research Alternative Energy Stocks


Let us say you have decided to look into the possiblities of alternative energy.Perhaps even put some money into it, but you don't know where to start?Perhaps you have even started researching this field and want to get further information on alternative energy stocks.Or you may be doing some writing on the topic.In any of these cases, you want to access good information quickly.These stocks are going through the ceiling.Even though 2005 was a static year for most investments, alternative energy stocks such as solar energy have grown. This growth outpaced the stockmarket indices last year, and, though growth is expected to slow,it is still expected to be substantial. The technology for alternative energy is still in its infancy and great developments are still expected. The problems of fossil fuels makes more and more peope realize that alternatives need to be found.Recently, we have seen weather changes, shortages in oil, increases in prices at the pump and many other problems that make the public think more and more about alternative energy. Investments in this technology will alleviate these problems while bringing a profit to investors.Invesing in alternative energy stocks is investing in an unlimited resource, since you are investing in the technology, not the resource itself.How do you get the information you need about alternative energy stocks? The best single place is the internet. Information changes daily, so new information is made available constantly.There are websites that can give you comparative performances between the various alternative energy stocks.Look at all of the advantages and disadvantages of each of these stocks and decide.Just be alert to the fact that some websites are sponsored by the stock they are touting.In other words, trying to influence you to buy their stock.And receive your investment.Even if you see a strong expected growth pattern, you need to be careful that it is not a stock that will fizzle out quickly. You're in this market to make money, not lose it.So don't just examine the fact sheet about a stock; make sure you know the history of the company and its principals. There are even some mutual funds that specialize in alternative energy stocks. That makes the decision easier for you.In theory, if you found the right start up alternative energy company, you could be investing in the next Microsoft.It has become clear that alternative energy is going to be the primary source of energy for the future.We know now that we cannot continue to power the earth by poisoning it.Or help our economies by destroying them.Alternative energy is the investment for today.
Source: Free Articles

Friday, August 8, 2008

Bio-Fuel Market Set to Grow by 1,000%


Middle Eastern oil sheiks move over. There’s a new kid on the energy block! Bio-fuel is the new green, completely clean fuel source. It’s also known as “agro-fuel” and can be broadly defined as any solid, liquid or gas fuel consisting of or derived from biomass. Biomass is nothing more than materials that were recently living organisms—in this case, plants and their by-products. Even better, it is a renewable energy source, unlike petroleum and coal, which once used are gone forever. Thanks to a new miraculous feat of engineering and science, this energy source has suddenly become competitive with oil, catapulting it from a backyard business into a global economic phenomenon.
Right now, bio-fuels are capturing about $23 billion of the $1.3 trillion we spend each year to power our cars, trucks, airplanes, trains and ships. That’s just two percent of the market with an astounding 98 percent upside. To say we’re at the forefront of a growth curve is an understatement.
Is the bio-fuel market set to grow by 1,000 percent? One Brazilian company planning to spend $54 billion on this new fuel by 2010 sure thinks so.
The fact is that major governments from the world over have practically guaranteed this revolution by writing it into law. The U.S., the E.U., Japan and China have all passed statutes mandating that bio-fuel be increasingly used to replace crude oil products in order to reduce emissions and to reduce dependence on foreign crude.
The market for bio-diesel is also growing at a phenomenal rate. Consumption in the U.S. grew from 25 million gallons in 2004 to 78 million in 2005, a 300 percent increase in one year! In the U.S. alone, more than 80 percent of commercial trucks and city buses run on diesel, making the potential U.S. market for biodiesel huge.
Ethanol fuel, made from ethyl alcohol, is one such bio-fuel alternative to gasoline. It is easy to manufacture and process and can be made from very common crops grown in the United States such as sugar cane and corn, which reduce the need for imported foreign crude.
In fact, with ethanol, billions of gallons of production capacity are under construction right now. The Renewable Fuels Association counts 113 U.S. ethanol distilleries in operation and another 78 under construction.
Ethanol production should increase dramatically over the next couple of years because of the Energy Policy Act of 2005, which set a renewable fuels standard mandating 7.5 billion gallons of annual domestic renewable-fuel production by 2012. Furthermore, refiners will be required to blend bio-fuel into diesel and gasoline supplies.
Even more promising, many U.S. cities and auto manufacturers are taking steps to make ethanol more available. In 2007, Portland became the first U.S. city to require all gasoline sold within the city limits to contain at least 10% ethanol. As of January 2008, Missouri, Minnesota and Hawaii require ethanol to be blended with gasoline motor fuel.
Like with anything else, the bio-fuel industry has its share of critics too. Some of the more common complaints you’ll hear:
Ethanol cost too much to produce
Switching to Ethanol is Expensive
Vehicles running on Ethanol don’t get good mileage
Ethanol cost about $1 a gallon to produce at most facilities. Corn based ethanol is the most common form of ethanol in the United States. Corn is broken down into a useable fuel through a multi-step process of adding water, yeast and other enzymes. The price for corn has increased, but the more we turn to ethanol and other bio-fuels, we’ll start to see greater savings at the pump. The National Resources Defense Council calls corn ethanol “energy well spent.” Furthermore, Japanese scientists are experimenting with other vegetable oil-based fuels to help keep the cost of corn down.
A new car can be made flex-fuel capable for about $35. Ethanol is already being mixed in with the gasoline you put in your car. Auto-makers realize the importance of bio-fuels and are producing more flex-fuel models.
Right now, ethanol-run vehicles get about a quarter less mileage compared to traditional gasoline vehicles. As auto-makers focus on keeping vehicles cleaner and greener, we’re seeing the production of better engines that are able to support and run more efficiently on ethanol and other bio-fuels.
Ford, DaimlerChrysler and General Motors sell flexible-fuel vehicles that can use gasoline and ethanol blends ranging from pure gasoline all the way up to 85% ethanol (E85). By mid-2006, there were approximately six million E85-compatible vehicles on U.S. roads.
Some very prominent names have also shown an interest in the bio-fuels market. Bill Gates recently injected $84 million into one of America’s very few publicly traded bio-fuel pure-plays. Willie Nelson recently launched his own brand of bio-fuel called Bio-Willie. Richard Branson soon followed with his version called Virgin Fuel. Even Larry Page and Sergey Brin, the Google billionaires, recently toured the operations of Brazil’s largest bio-fuel producer.
President Bush was quoted in 2005 as saying, “What people need to hear loud and clear is that we’re running out of energy in America.” With crude oil prices as unpredictable and steep as ever, turning to bio-fuel as an alternative fuel source, one that is clean and can be used over again, is the way to go.”
While little has been done during the current administration and previous ones, the volatility of the oil markets today has resulted in politicians finally giving more than lip service to alternative energy sources.
-James DiGeorgia is editor and publisher of the Gold and Energy Advisor Newsletter (http://www.goldandenergyadvisor.com/) and the author of the popular book, The Global War for Oil.

Geothermal Energy: Energy from the Earth


The simplest way to get energy is to use what is already there. The heat in the earth is already there and we just need to dig into it to tap it as a source of energy.On the surface, we can stand the heat of the earth, but deep below, immense power is stored as tremendous heat.The core of the earth is over 60 times hotter than boiling water. This heat creates pressure that is just below the surface of the earth. In other words, we don't have to go to the center of the earth to reach this geothermal energy. If we only dig down three miles, the temperature is over 100, enough to produce steam to produce power.It is a simple concept: we normally use coal or oil to produce energy which is converted to electricity for our everyday use. The superheated fluids in the earth can produce the same energy to convert to electricity.This heat is extracted in the form of molten rock (magma).Water seeps into the earth's core and pools in little lakes. The hot rock in the earth heat this water and wells are drilled to bring this heated water to the surface to power generators.As the superheated fluid passes through pipes, any solids are removed and the water is forced through pressure to produce steam. This steam will power turbines which will power generators. Generators store energy and then send it to transformers that in turn send electricity to power lines.Geothermal energy has been used for a while, but it is not fully exploited as the source of energy it could be. In the United States, geothermal energy remains a lessor source of energy for many reasons:a. A lot of study and research must be done to find areas that are most conducive to geothermal energy.b. Some geothermal sites may not produce steam for a long enough time to run generators.c. It is very expensive to build a geothermal power plant, and the return is not guaranteed.d. The process of bringing up the heat may also bring up materials that may be hazardous.These factors make us wonder whether it it worthwhile to develop this source of alternative energy in a location.Hopefully, these problems can be outweighed by the benefits:a. Geothermal energy uses natural heat, and therefore does not cause any pollution.b. You do not have to use energy to get the energy of geothermal heat, which is sometimes the case of other alternative energy sources.c. We conserve fuel.d. It does not require as much room as a traditional power station.We will have to weigh the pros and cons of geothermal energy before it can be decided how feasible it is to use. But constant developments may eventually make it a perfect alternative fuel.
Source: Free Articles

Sources of Alternative Energy


If you want to understand the various forms and sources of alternative energy, read on.Sometimes called renewable resources, alternative energy does not need fossil fuel or even the splitting of the atom to be produced. It is called renewable because the sources of it are constantly being produced. It does not cause the pollution that oil and gas cause.This kind of energy is not really new. What is new is that we now categorize these forms of energy as alternative energy.The forms that alternative energy may take are fuel cells, geothermal energy, wind power, biomass, hydro electric energy, solar energy and water energy such as wave and tidal energy.Fuel cells as a type of alternative energy is usually associated with electric cars, or hybrid cars. Electro chemical devices produce power through a chemical reaction. The primary benefit of fuel cells technology is that power is produced without the production of harmful pollutants. They are still very expensive to produce, however.Geothermal energy can be a powerful source of energy. It is ideal for small scale use to heat houses, businesses and small industry. On a larger scale, geothermal plants extract the heat from the earth and use it to create steam to power turbine engines.Wind turbines produce energy using the same principal as windmills. Blades are moved by the wind, and a shaft attached to the blades rotate a generator that produces energy. This energy is stored in batteries. Wind is, of course required to run this type of alternative energy, so the more wind you have the better it will work. Sites where there is a lot of wind, such as open farmland are good for wind turbines, or other locations that cannot be reached by powerlines.Biomass is organic material that can be converted to fuel. There are many types, such as animal waste, crops and grains, wood and other byproducts from mills and forests as well as from aquatic plants. One type uses the matter to burn to produce steam power; another type transforms the matter into a gas or liquid.Solar energy is probably the most well known form of alternate energy. It is the safe and efficient use of the heat from the sun to form energy.Energy from water. Hydroelectric energy is the energy produced by dams.The movement of the water causes turbines to generate power instantaneously. The initial cost of a dam is very high, but after that the power is free. Tidal energy works on the same concept as dams. The turbines are put directly in the water and the motion of the tides over them powers the turbines. Wave energy uses the motion of the waves in the same way.Those are your basic types of alternate energy sources.
Source: Free Articles

Cheaper, More Efficient Solar Panels


HP and Xtreme Energetics (XE), a solar energy system developer based in Livermore, Calif., have announced that they have entered into an agreement for the development of a solar energy system. This solar system will have an edge over existing solar technologies. Their solar energy system will generate electricity at twice the efficiency and not twice but half the cost of traditional solar panels. According to the agreement, HP will license its transparent transistor technology to XE in exchange of royalty payments.
“Blending art and science, our ultra-high efficiency solar energy systems can serve both the central utility and rooftop markets using low-cost, ecologically harmonious and architecturally inspiring designs,” said Colin P. Williams, chief executive officer, Xtreme Energetics. “Our agreement with HP allows us to bring an advanced solar energy solution to the market that is superior to other offerings currently available.”
HP and Oregon State University have developed transparent transistor technology. This technology makes use of thin film transparent transistors utilizing low cost readily available materials such as zinc and tin. These materials are environmentally safe, plentiful, easy to manufacture and have better chemical stability.
HP’s transistors will create a tracking system that directs the sunlight straightaway to XE’s solar concentrators. This will maximize the concentration of sunlight or double the conversion efficiency of traditional silicon solar panels. XE can also avoid the use of mechanical tracking devices which invites high maintenance costs.
The transparent electronics, not only prevents light from being blocked as with conventional systems, it also allows for a greater degree of aesthetic appeal by enabling the placement of artistic patterns on the arrays; this makes it possible for them to be eventually incorporated into a variety of building materials and facades. Xtreme Energetics aims to make this system available to commercial customers as well as the central utility market.
HP Press Release